KHILAFAH ISLAMIYAH

Solusi Total Penerapan Syariat Islam

KARIR

Ingat, Anda hanya punya waktu sekitar 30 detik untuk memberi kesan pertama agar lolos seleksi. Karena staf HRD hanya punya waktu sekitar 30 detik untuk melihat sekilas dokumen lamaran kerja yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Anggaplah kami sebagai biro promosi dan pemasaran diri Anda. Kami akan merancang surat lamaran kerja dan curriculum vitae (CV) yang efektif untuk menciptakan citra yang positif, agar Anda unggul dari para pesaing. Di tangan kami, surat lamaran kerja dan CV Anda menjadi alat promosi diri yang efektif, dirancang dengan memadukan informasi-informasi penting secara memikat. Hal inilah yang jarang dilakukan pencari kerja pada umumnya.

Follow-Up Interview

Ada baiknya setelah interview, Anda membiasakan diri untuk segera membuat surat ucapan terima kasih. Cara seperti ini akan membuat Anda lebih menonjol daripada kandidat-kandidat lain yang telah diinterview. Sebab, tidak banyak orang yang mau berepot-repot membuat surat untuk mengucapkan terima kasih. Atau bisa juga mereka merasa sungkan atau janggal melakukan ini.

Yang perlu disampaikan dalam surat ini, pertama, tentunya Anda berterimakasih kepada orang-orang yang meluangkan waktunya untuk mewawancarai Anda. Selain itu, secara singkat Anda ingatkan kembali kemampuan Anda yang bisa menjawab kebutuhan perusahaan atau yang bisa memberi kontribusi bagi perusahaan. Anda juga bisa memberi info tambahan yang belum Anda sampaikan dalam interview, atau solusi untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi perusahaan.

Apa Yang Anda Ketahui Tentang Perusahaan Kami?

Jika Anda tidak bisa menjawab pertanyaan ini, Anda sebenarnya belum siap menghadapi wawancara kerja.

Demi kebaikan Anda sendiri, carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang perusahaan/organisasi yang akan Anda datangi untuk wawancara kerja. Yang perlu Anda ingat, dalam wawancara nanti, Anda harus bisa mempertimbangkan dengan bijak informasi mana yang perlu Anda ungkapkan dan mana yang Anda simpan sendiri. Jika Anda mengetahui keburukan-keburukan perusahaan itu, tidak perlu Anda katakan di sini. Misalnya pada wawancara kerja untuk sebuah stasiun televisi, Anda tidak perlu mengatakan tentang rendahnya kualitas program untuk anak-anak di stasiun televisi tersebut saat ini.

Jawaban yang Anda berikan bisa tentang ringkasan profil perusahaan yang menunjukkan bahwa Anda tahu bidang yang dijalankan, serta besarnya perusahaan/organisasi itu.

Dear or Sir Madam … Itu Biasa!

Surat lamaran kerja Anda sebaiknya ditujukan kepada orang yang akan membaca surat itu. Oleh karena itu nama orang tersebut harus dicantumkan. Cara seperti ini akan membuat surat Anda berbeda dengan setumpuk surat lainnya, sehingga ada kemungkinan mendapat perhatian khusus.

Selain itu, dengan mencatumkan nama orang yang Anda tuju pada surat lamaran, Anda menunjukkan kepada pembuat keputusan bahwa Anda punya inisiatif dan motivasi yang kuat untuk bekerja di perusahaan tersebut. Mengapa demikian? Karena untuk mendapatkan nama itu, Anda mungkin harus berusaha misalnya mencari melalui internet, menelepon perusahaan tersebut, datang ke perusahaan untuk melihat di laporan tahunannya atau usaha-usaha kreatif lainnya.

Karena itu, sebisa mungkin hindari “Dear Sir or Madam” atau “Yth. HRD” dan hal semacam ini. Kata-kata ini kesannya biasa, sementara untuk bersaing dengan ratusan pelamar, surat lamaran Anda harus luar biasa agar menonjol dari yang lain.

Alasan Meninggalkan Pekerjaan

Saat ini masih ada orang yang berpikiran bahwa yang normal adalah bekerja di satu tempat sampai pensiun tiba. Mungkin pola pikir ini peninggalan jaman dulu ketika sekali seseorang bekerja sebuah perusahaan, berarti ia bisa bekerja di sana selamanya. Pada masa itu, berganti-ganti pekerjaan, seperti yang sering dilakukan sekarang, dianggap tidak baik karena menandakan ketidakloyalan.

Meskipun jaman sudah berganti, kenyataannya masih ada orang yang berpandangan seperti ini. Karena itu, sebaiknya jika Anda sering berganti-ganti pekerjaan, surat lamaran kerja dan CV Anda tidak perlu mencantumkan alasan meninggalkan pekerjaan yang terdahulu. Ingat, Andalah yang memegang kendali, bukan calon atasan Anda. Lagipula, sebenarnya hanya ada empat alasan dasar mengapa orang ingin pindah kerja: prospek yang lebih baik, gaji yang lebih tinggi, mutasi, atau PHK. Yang manapun alasan Anda, Anda tetap akan dipandang sebagai pekerja yang berisiko bagi perusahaan. Karena itu, lebih baik Anda menerangkan hal semacam ini saat wawancara kerja, itupun kalau Anda ditanya.

Hilangkan Informasi Negatif dalam CV Anda

CV Anda adalah brosur yang berisi profil Anda, bukan otobiografi Anda. Pernahkah Anda membaca brosur sebuah produk yang mencantumkan kelebihan dan kekurangan produk tersebut? Nah, sama halnya dengan brosur produk, CV Anda harus menunjukkan Anda layak dipertimbangkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Tidak ada aturan pasti mengenai jumlah halaman. Tetapi biasanya minimal satu halaman kalau Anda seorang Senior Executive, dua halaman jikabukan. Sebaiknya, CV Anda tidak lebih dari empat halaman.

CV sering digunakan sebagai panduan wawancara. Kegunaan ini sering tidak dihiraukan atau diremehkan oleh pelamar. Apabila CV menunjukkan kegagalan studi Anda, itulah yang akan dibicarakan saat wawancara. Karena itu, sebaiknya Anda hanya mencantumkan informasi positif, Jangan yang negatif. Andalah yang memegang kendali atas isi CV Anda. Jadi Anda bebas menghilangkan beberapa informasi. Yang mana yang Anda hilangkan? Yang pasti hilangkan informasi negatif. Informasi negatif hanya cocok diungkapkan saat wawancara ketika Anda mempunyai kesempatan untuk memberi penjelasan. Misalnya, Anda dipecat lima tahun yang lalu karena Anda tidak setuju dengan atasan Anda, tetapi Anda memiliki karir yang sukses setelah itu, maka Anda tidak harus mencantumkan riwayat pemutusan kerja tersebut dalam CV Anda.

Tampilkan CV yang Menarik

Kadangkala CV yang tampilan isinya mendekati garis tepi kertas terlihat sesak. Mungkin saja isinya bagus, tapi penampilannya tidak menarik. Di restoran yang bergengsi, makanan ditata dengan menarik untuk mencerminkan kelezatan rasanya. CV pun harus diatur dengan prinsip yang sama – tampilannya harus semenarik mungkin.

Kelihatannya memang tidak masuk akal bila seorang perekrut menilai Anda dari tampilan CV Anda dan bukan isinya. Isi CV tetap merupakan aspek terpenting, tapi aspek lainnya juga harus diperhatikan. Misalnya, ketika perekrut dihadapkan dengan enam atau tujuh ratus CV, dan setelah sekitar satu jam ia berkutat dengan CV yang kacau-balau dan tampilannya tidak menarik, pastilah godaan untuk menyingkirkan CV tersebut sangat besar. Untuk apa menghabiskan waktu membaca CV yang semacam itu bila CV berikutnya tampak jauh lebih menarik?

Jangan biarkan jerih payah menyusun isi CV Anda jadi sia-sia hanya karena tampilannya tidak menarik.Ingat, jika CV Anda memberi kesan bahwa Anda menulisnya dengan sungguh-sungguh, CV Anda akan diluluskan ke tahap selanjutnya. Anda tentunya pernah mengalami hal seperti ini. Kalau Anda lewat sebuah toko yang pajangannya di etase tidak menarik, Anda mungkin tidak memperhatikan toko itu. CV Anda adalah etalase yang menampilkan karir Anda. Jangan biarkan perekrut melewatinya begitu saja.

Menjawab Pertanyaan Interview dengan Humor

Beberapa pertanyaan bisa dijawab dengan humor, terutama jika jawaban yang rasional tidak akan mampu menghilangkan kecemasan pewawancara. Jika Anda terjebak dalam keadaan seperti ini, tunjukan bahwa pertanyaan yang diajukan (dan kekhawatiran yang terkandung di balik pertanyaan itu) tidak jadi masalah buat Anda, dan dengan demikian juga tidak jadi masalah bagi pewawancara dan perusahaan.

Meski penggunaan humor dalam interview sebenarnya cukup berisiko, dan juga tidak mudah untuk mengaplikasikannya secara tepat, namun humor bisa menjadi alat yang tepat untuk mengatasi pertanyaan sulit. Yang harus diingat adalah jangan menggunakan humor jika hubungan Anda dengan pewawancara masih sangat formal dan kaku. Jika hubungan sudah mulai mencair Anda boleh menggunakan humor sedikit-sedikit dan dengan sangat hati-hati. Penggunaan humor yang tepat bisa membuat pewawancara terkesan pada Anda.

Contohnya, jika Anda diberi pertanyaan, “Apakah Anda ingin duduk di kursi saya suatu hari nanti?” Anda bisa memberi jawaban, “Ya, jika Anda mendapatkan kursi yang lebih nyaman!”

Empat Kekhawatiran Pewawancara

Sebelum belajar cara menjawab pertanyaan wawancara kerja, kita perlu tahu empat hal yang menjadi kekhawatiran pewawancara. Kalau kita paham ini, kita jadi tahu bahwa di balik setiap pertanyaan wawancara sebenarnya ada suatu kekhawatiran dari orang yang menanyakan itu. Dengan memahami keempat kekhawatiran tersebut, kita dapat memberi jawaban untuk menangkis kekhawatiran itu.

Kekhawatiran 1:
Apakah Anda Bisa dan Mau Mengerjakan Pekerjaan Ini?

Pertanyaan yang biasa diajukan antara lain:

Apakah Anda punya keterampilan/skill yang dibutuhkan agar bisa ikut berkontribusi untuk mencapai tujuan perusahaan/organisasi dalam jangka waktu tertentu?

Apakah ada bukti Anda bisa mengerjakan pekerjaan ini di tempat kerja dulu? Jika ya, seberapa besar keberhasilan Anda, dan masalah apa yang Anda hadapi? Apakah masalah yang pernah Anda hadapi itu membuat Anda lebih berkembang atau menghambat Anda?

Jika Anda belum pernah melakukan pekerjaan ini, apakah ada bukti yang meyakinkan bahwa Anda benar-benar memiliki keterampilan/skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan ini?

Apakah Anda akan mencurahkan seluruh perhatian Anda pada perusahaan/organisasi? Apakah Anda seorang yang loyal, pekerja keras, atau seorang yang bekerja sesuai suasana hati (mood), sering absen dan terlambat masuk kantor?

Apakah Anda akan meninggalkan perusahaan sebelum memberi kontribusi bagi perusahaan/organisasi yang telah mengivestasikan waktu dan dana dalam proses rekrutmen atau training?

Kekhawatiran 2:
Siapakah Anda? Bagaimana Karakter Anda? Antara lain:

Pertanyaan yang biasa diajukan antara lain:

Apa yang membuat Anda marah?
Apakah Anda kreatif?
Apakah Anda seorang pemimpin?
Apa hobi/minat Anda?
Apakah Anda suka membaca?
Apa yang membuat Anda unik?

Kekhawatiran 3:
Apakah Anda Bisa Bergaul dengan Staf Lain?

Pertanyaan yang biasa diajukan antara lain:

Apakah Anda bisa menyesuaikan diri dan bisa bekerja dalam tim? Adakah bukti yang meyakinkan?

Apakah Anda akan bisa memberi pengaruh positif terhadap sesama rekan kerja, atau akan menyebabkan friksi, menyurutkan motivasi kerja, atau membicarakan hal-hal negatif tentang perusahaan?

Apakah Anda bisa menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan yakni dalam hal tingkah laku, nilai-nilai, kepribadian?

Bagaimanakah pendapat Anda tentang atasan Anda yang dulu/sekarang?

Kekhawatiran 4:
Apakah Perusahaan Mampu Membayar Anda?

Pertanyaan yang biasa diajukan antara lain:

Apakah skala gaji untuk pekerjaan ini sejalan dengan jumlah gaji Anda sebelumnya?

Apakah jumlah gaji yang Anda inginkan sesuai dengan yang telah ditetapkan perusahaan?

Apakah Anda bersedia menurunkan jumlah gaji yang Anda inginkan?

CV Fungsional

CV Fungsional mementingkan fungsi, kemampuan atau prestasi yang dimiliki seseorang sepanjang masa karirnya. Penulisan yang mencantumkan posisi/jabatan, nama perusahaan dan masa bekerja tidak diutamakan, bahkan seringkali dihilangkan. Sebagai gantinya, penulisan CV Fungsional menggunakan sub-judul sesuai keahlian atau prestasi yang dimiliki seseorang, kemudian di bawah sub-judul itu diberi keterangan tentang keahliannya. Contohnya, seorang yang bekerja sebagai Receptionist, bisa menggunakan sub-judul Front Office Management karena pada kenyataannya seorang resepsionis memang mengelola hal-hal yang berurusan dengan front-office.

Penggantian sub-judul posisi/jabatan dengan sub-judul keahlian mampu menonjolkan keahlian seseorang, dan membuat judul posisi yang merugikan jadi tidak terlalu diperhatikan. Coba bandingkan kesan yang didapat dari penggunaan sub-judul Receptionist dengan Front Office Management. Karena itu, format CV ini cocok bagi mereka yang memiliki judul posisi/jabatan yang merugikan namun orang itu sebenarnya memiliki keahlian.

CV Fungsional juga bisa menonjolkan kemampuan kerja di masa lalu tanpa menyoroti tahun kerja. Dengan demikian, format CV ini cocok bagi mereka yang memiliki keahlian namun tidak didukung oleh masa kerja yang panjang di sebuah perusahaan/kantor karena sering berpindah-pindah tempat kerja, atau banyak jeda antar masa kerja yang mungkin disebabkan karena mengganggur, terkena PHK, wirausaha, sakit, melahirkan dan membesarkan anak, dan lain-lain. Selain itu, CV fungsional juga cocok bagi mereka yang ingin mengubah arah karir, serta bagi mereka yang memiliki pengalaman kerja yang bersifat sukarela/voluntir atau tanpa bayaran.

Kelemahan dari format CV ini yaitu bila perusahaan/kantor terdahulu memiliki reputasi bagus, maka hal itu tidak lekas terlihat di dalam CV. Untuk mengatasinya, hal itu dapat diungkapkan dalam surat lamaran kerja/surat pengantar. Format CV ini juga kurang cocok bagi mereka yang memiliki keahlian atau prestasi kerja spesialisasi (terbatas). Sebenarnya kekurangan yang ada pada CV fungsional tidak terlalu berarti. Pada kenyataannya format CV ini cocok untuk digunakan sebagian besar pelamar kerja.

CV Kronologis & Performa

CV Kronologis menekankan pada urutan masa bekerja. Penulisannya menggunakan susunan kronologi terbalik, yakni diawali dengan pekerjaan yang paling terakhir dilakukan, kemudian mundur ke pekerjaan sebelumnya. Judul posisi/jabatan, nama perusahaan/kantor dan tahun bekerja dicantumkan sebagai sub-judul. Kemudian di bawah sub-judul itu, diberi keterangan singkat tentang tugas dan tanggungjawab di perusahaan/kantor tersebut.

Pengembangan dari CV Kronologis adalah CV Performa, yakni susunan CV Kronologis yang ditambah dengan prestasi yang pernah dicapai. Kedua format ini lebih cocok digunakan mereka yang ingin menekuni sektor pekerjaan yang sama. Format ini juga cocok untuk orang-orang yang memiliki riwayat kerja yang konstan atau tidak banyak jeda/waktu kosong antar masa kerja.

Kedua format CV ini lebih banyak digunakan karena format ini memuat informasi yang ingin diketahui pemberi kerja. Misalnya informasi tentang masa bekerja. Penulisan format CV ini juga lebih dipahami orang-orang karena susunannya mudah, tidak terlalu butuh strategi dan kreativitas sebagaimana format CV lainnya.

Karena CV Kronologis dan Performa memuat tahun bekerja, hal ini bisa menonjolkan pengalaman bekerja di sebuah sektor pekerjaan. Dampaknya bisa memberi citra yang positif bagi mereka yang mempunyai peningkatan dari satu posisi ke posisi lainnya. Sebaliknya, format ini bisa merugikan, terutama bagi mereka yang memiliki banyak jeda antar masa kerja mungkin karena mengganggur, PHK, berwirausaha, sakit, melahirkan dan membesarkan anak dan alasan lainnya. Sebab dalam beberapa detik saja staf HRD atau yang menyeleksi dokumen langsung bisa melihat masa kerja yang pendek dalam CV itu. Hal ini sering membuat orang tidak lolos seleksi dan tidak mendapat panggilan interview.

Format CV ini juga kurang menguntungkan bagi orang-orang yang tidak memiliki banyak prestasi atau prestasi yang diraih tidak berhubungan dengan sektor pekerjaan yang ingin dilamarnya. Format ini juga kurang menguntungkan bagi orang-orang yang mempunyai judul posisi/jabatan yang sama terus-menerus meski sudah pindah ke berbagai perusahaan/kantor. Sebab kesannya tidak ada peningkatan kapasitas atau pengalaman kerjanya sangat sempit dan terbatas.

Format CV

Untuk membuat CV, ada baiknya kita tahu terlebih dahulu tentang beberapa format CV. Sebab format CV menjadi dasar atau kerangka untuk membantu kita menyusun CV yang efektif.

Pada intinya, ada 2 format CV, yakni CV Kronologis dan CV Fungsional. Ada pula format CV yang menggunakan kombinasi CV Kronologis dan CV Fungsional. Format lainnya adalah CV Alternatif yang biasanya digunakan oleh mereka yang berkecimpung di bidang seni. Semua format ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Format CV yang manakah yang sebaiknya digunakan? Ini sangat tergantung dari pengalaman kerja, prestasi, pekerjaan yang diinginkan, dan beberapa faktor lain yang berkaitan dengan demand perusahaan.

Juni 5, 2006

 

ETIKA MELAMAR PEKERJAAN SECARA ONLINE

Disimpan pada Lamaran — tipsgawe @ 6:33 adalah

 

 

Kita pantas bergembira atas penemuan teknologi internet. Banyak penghematan dan kemudahan yang telah dihasilkan dengan pemanfaatan teknologi ini, termasuk diantaranya dalam memudahkan Anda melamar pekerjaan.

Dengan adanya media rekrutmen secara online sebagaimana yang kami selenggarakan ini, kini jauh lebih mudah dan murah bagi Anda untuk melamar pekerjaan. Tetapi tentunya ini tidak serta-merta berarti Anda boleh mengabaikan etika dalam melamar pekerjaan. Berdasarkan pemantauan kami, ada beberapa hal menyangkut etika yang perlu Anda simak dalam melamar pekerjaan secara online, sebagaimana diuraikan berikut ini :

  1. Jangan melamar ke perusahaan yang sama berulang-ulang untuk posisi yang sama
  2. Bila Anda melamar ke perusahaan yang sama untuk posisi yang berbeda, pastikan posisi yang Anda lamar tidak lebih dari dua, dan bidang-bidang tersebut tidak bertentangan atau bertolak belakang satu sama lain. Misalnya : Anda melamar untuk posisi Marketing dan Accounting.
  3. Bila kualifikasi diri Anda berbeda jauh sekali dengan yang diharapkan oleh perusahaan, maka sebaiknya jangan memaksakan diri untuk melamar. Misalnya : bila pengalaman kerja Anda adalah sebagai Engineering Staff selama 2 tahun di perusahaan kontraktor, sebaiknya jangan melamar untuk posisi General Manager Operational yang menuntut pengalaman minimal 5 tahun di posisi yang sama di industri pertambangan. Hampir dapat dipastikan, lamaran Anda pasti akan sia-sia saja.

4. Bila Anda mendapatkan panggilan wawancara, kami amat sangat menyarankan Anda untuk menghadirinya. Apalagi bila Anda sudah menyatakan kesanggupan untuk menghadirinya. Bila Anda ternyata tidak tertarik pada perusahaan yang bersangkutan atau posisi yang ditawarkan, nyatakan penolakan Anda dengan sopan dan dengan alasan yang masuk akal. Sudah cukup banyak perusahaan pelanggan kami yang mempertanyakan keseriusan para pencari kerja yang telah mengajukan lamaran secara online, akibat ketidak-hadiran mereka dalam sesi wawancara yang telah disepakati bersama. Bila ada halangan mendadak, silakan Anda hubungi kembali HRD yang bersangkutan dan buat jadwal wawancara baru.

5. Pikirkan dengan seksama bila Anda melamar ke perusahaan yang letaknya berlainan kota dengan tempat tinggal Anda. Anda harus memastikan diri siap untuk menghadiri wawancara yang akan dilakukan di lain kota tersebut. Bila Anda merasa keberatan untuk pergi ke kota lain tersebut, baik untuk panggilan wawancara maupun untuk menetap setelah diterima bekerja, maka sebaiknya Anda tidak usah mengajukan lamaran ke perusahaan tersebut.

Mei 9, 2006

 

Penyesuaian Diri di 60 Hari Pertama Kerja

Disimpan pada Dunia Kerja — tipsgawe @ 4:10 adalah

 

Sekarang ini persaingan antar perusahaan semakin ketat, dan ditambah oleh jumlah tenaga
kerja yang semakin banyak (dan berkualitas), maka seseorang dituntut untuk dapat dengan
cepat menyesuaikan diri di tempat kerja barunya. Semakin cepat akan semakin baik. Berikut
adalah strategi bagaimana anda harus bersikap selama 60 hari pertama di tempat kerja baru.
Who knows, mungkin karir anda akan melesat dan tetap berada di jalur cepat.

1. 14 hari pertama: Pengenalan rekan-rekan kerja
Untuk berhasil, diperlukan kombinasi antara performa dengan kepribadian. Supaya bisa
diterima oleh lingkungan baru, sering-seringlah menghabiskan waktu dengan rekanrekan
yang dapat memberitahu kita peraturan-peraturan informal di dalam perusahaan.

Pertama dekati mereka-mereka yang akan sering anda temui (misalnya teman satu
departemen atau dari departemen lain yang mempunyai hubungan erat dengan
pekerjaan anda), para pembuat keputusan (misalnya pimpinan proyek) dan orangorang
yang berpotensi menjadi mentor anda. jangan ragu-ragu untuk menyediakan
waktu makan siang dengan orang-orang ini. Tujuannya tak lain adalah untuk
mengetahui rule-of-the-game yang berlaku di tempat baru tersebut, misalnya apa saja
yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dengan membangun hubungan, kepercayaan
dan informasi akan datang dengan sendirinya.

2. 30 Hari pertama : Bertemu atasan, tanyakan apakah ada kemajuan dalam
pekerjaan anda
Kebanyakan orang yang baru bekerja di tempat baru melakukan kesalahan fatal dengan
mengira atasan mereka tahu apa saja tugas yang harus anda lakukan. Hal ini
diperparah oleh ketakutan kalau-kalau tugas kita dianggap tidak dikerjakan dengan
benar. Tapi ada hal yang mungkin luput dari perkiraan kita, biar bagaimana pun atasan
pasti ingin anda sukses, karena kesuksesan anda secara tidak langsung akan berakibat
positif pada dirinya (dia juga akan mendapat pujian dari supervisornya).

3. 45 hari pertama : Tulis dan pahami deskripsi pekerjaan anda
Setelah satu setengah bulan di posisi baru, harusnya anda sudah tahu tanggung jawab
apa saja yang harus anda emban. Tulis pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak
anda di atas sebuah kertas, berikut dengan daftar proyek-proyek yang telah anda
tangani. Kemudian temui atasan anda dan diskusikan hal ini dengannya, hal ini untuk
menyamakan persepsi anda berdua tentang bagaimana menyelesaikan tugas-tugas di
posisi anda yang dapat diterima oleh bos anda.

4. 60 hari pertama : Selesaikan pekerjaan dengan baik
Memang, anda harus melakukan pekerjaan yang cukup sulit untuk membuat orang lain
terkesan. Namun anda harus berhati-hati, pilih proyek pekerjaan yang masuk akal dan
bisa diselesaikan dengan tepat waktu. Sebagai contoh, jangan pilih pekerjaan di mana
hanya anda yang terlibat karena hanya memakan waktu lebih lama dan (mungkin)
tidak mendapat dukungan dari atasan anda. Ambil proyek-proyek yang melibatkan
orang lain dalam tim anda.

5. 60 hari kemudian : Penyegaran
Untuk melakukannya sebenarnya susah-susah gampang. Intinya adalah berusaha
melakukan hal yang sama (dengan semangat yang sama) sebagaimana anda bekerja di
dua bulan pertama. Kemudian buat kerangka kerja berdasarkan landasan yang telah
anda ciptakan di 60 hari pertama tersebut. Memperluas pergaulan hingga mempunyai
banyak teman dari perusahaan lain juga dapat menunjang usaha anda.
Ingatlah selalu bahwa memberikan atau menerima feedback dan mementukan posisi anda di
kantor adalah proses yang terus berlanjut, jadi jangan cepat puas!!
*****
diterjemahkan oleh : hendra

 

’Berperang’ Dengan Pekerjaan Yang Penuh Tekanan

Disimpan pada Dunia Kerja — tipsgawe @ 4:08 adalah

 

Apakah anda sering mengalami hal-hal berikut :
mood yang berubah-ubah seperti stress atau depresi, sering bingung (atau bengong), menarik
diri dari lingkungan, mengalami masalah dengan hubungan interpersonal dengan orang lain,
kesulitan konsentrasi, dan bermasalah dengan kesehatan saat bekerja dalam penuh tekanan.

Bila jawabannya ya pada dua atau lebih dari pilihan di atas, mungkin anda saat ini berada di
ambang bahaya karena beban pekerjaan mulai membuat anda nyaris gila. Simak cara- cara di
bawah ini, mungkin salah satunya dapat anda gunakan supaya dalam pekerjaan yang penuh
pressure, anda dapat bertahan.

1. Fokus pada penyebab
Setiap orang mengalami tekanan dalam pekerjaan karena masalah yang berbeda-beda,
karena itu solusinya pun bervariasi pada setiap orangnya. Langkah pertama yang harus
anda lakukan adalah menemukan penyebab utamanya, sebenarnya bagian pekerjaan
mana yang membuat anda merasa lelah?

2. Lihat ke depan
Banyak kasus stres dalam pekerjaan disebabkan karena harapan-harapan yang tidak
realistis (bahkan mustahil) terhadap kemampuan atau pekerjaan seseorang. Karena
anda yang paling tahu tentang kemampuan anda sendiri, buatlah langkah-langkah yang
harus ditempuh untuk menyelesaikan pekerjaan, sehingga dengan begitu anda tidak
akan merasa terbebani.

3. Ciptakan keseimbangan
Buat keseimbangan antara pekerjaan, keluarga dan hobi pribadi. Kalau anda
mengutamakan karir saja, mungkin ini saatnya mengubah pola berpikir anda.
Menempatkan karir di atas segalanya hanya akan berakibat buruk dalam jangka
panjang.

4. Berbagi dengan orang lain
Saat anda mulai merasa tekanan pekerjaan , berbagi ceritalah dengan anggota
keluarga, teman, supervisor, atau orang lain yang anda percayai. Bukan hanya anda
saja yang pernah merasakan hal tersebut, dan berbagi/mendapat dukungan dengan
orang lain adalah salah satu cara paling manjur untuk mengatasinya. That way, anda
tidak akan merasa seorang diri.

5. Ambil napas
Seandainya anda mulai merasa tidak mampu lagi menahan beban kerja, cepat ambil
tindakan. Minta liburan singkat, atau habiskan akhir minggu anda di sebuah tempat
kesukaan anda. Saat itu, jangan memikirkan tentang pekerjaan sama sekali, nikmati
saja hobi anda.

6. Melakukan sesuatu yang baru
Biasanya kebosanan memainkan peranan penting dalam job fatigue. Untuk
mengatasinya, cobalah dengan mempelajari hal-hal baru dalam pekerjaan anda atau
meninjau bidang lain. Perdalam pengetahuan anda dengan membaca majalah. Jangan
ragu untuk mngetahui sesuatu yang baru, meski pada kenyataannya hal tersebut tidak
ada hubungan sama sekali dengan profesi yang anda geluti sekarang ini.

7. Minta tambahan pekerjaan
Mungkin anda mulai merasa jenuh karena sudah tidak memdapatkan tantangan lagi
dari tugas anda yang sekarang. Kalau anda memang merasakan demikian, mintalah
proyek tambahan pada atasan anda. Seandainya atasan anda tidak melakukan apaapa,
carilah proyek yang sesuai dengan minat dan kemampuan anda (tentunya setelah
mendapat persetujuan dari atasan anda).

8. Delegasikan tugas
Yang ini kebalikan dari point sebelumnya, bagaimana kalau anda mengemban tugas
yang terlalu banyak dan tidak mampu mengatasinya? Untuk itu, mulailah membagi
tugas anda kepada orang lain, dan jangan sungkan untuk menolak proyek-proyek baru
yang ditawarkan seandainya anda masih harus mengerjakan tugas lain yang masih
berjubel.
*****
diterjemahkan oleh : hendra

 

Berhadapan Dengan Rekan Kerja ’Negatif’

Disimpan pada Umum — tipsgawe @ 4:05 adalah

 

Orang mendemonstrasikan sikap negatifnya dengan berbagai cara, namun terkadang ada
sebagian kecil yang menunjukkannya dengan terang-terangan (bahkan cenderung destruktif).

Gak ada salahnya sih, namun hal ini sering kali membawa dampak buruk karena orang lain
akan terpengaruh oleh sikap tidak bersahabat ini. Ada beberapa strategi umum yang bisa
digunakan seandainya anda menghadapi situasi ini.

1. Akui bahwa memang ada masalah dengan tingkah laku rekan anda
Langkah pertama adalah mengetahui saat seseorang menampilkan sikap negatif di
tempat kerja. Jangan mengabaikannya apalagi bila ternyata sikap tersebut berpengaruh
pada penampilan dirinya, anda, orang lain di sekitar anda atau hubungan dengan
klien/pelanggan.

2. Apa sih penyebabnya?
Kita tahu bahwa pemikiran buruk seseorang pasti ada penyebabnya, misalnya masalah
pribadi, stres yang berhubungan dengan pekerjaan, atasan yang menyulitkan, tidak ada
kesempatan untuk mengembangkan diri dalam pekerjaan, dan lain-lain. Seandainya
anda berniat untuk menolongnya, sangat penting untuk mengetahui hal ini. Tanyakan
pertanyaan yang tidak terlalu ’vulgar’ seperti, “Kamu lagi kesal ya? Ada yang bisa
dibantu?” Perlu anda ketahui, bahwa orang yang sedang berada dalam situasi ini akan
menganggap pikiran negatifnya adalah hal yang benar, jadi sabar-sabar saja
menghadapinya.

3. Bangkitkan rasa tanggung jawab
Untuk mengubah sikap negatif seseorang dalam bekerja sangat tergantung pada orang
itu sendiri, apakah ia mau atau tidak untuk berubah. Meski memiliki hak untuk
mempunyai sikap tersebut, namun akan sangat tidak etis bila ia menunjukkannya di
tempat kerja (apalagi bila ia adalah bagian dari sebuah tim). Sebagai salah satu
anggota tim atau (mungkin) atasannya, anda perlu membantu kolega anda agar
menyadari hal ini. Ada baiknya bila anda mendiskusikan masalah ini secara pribadi
dengan rekan anda, sekaligus (secara halus) tunjukkan bahwa sikapnya akan dapat
berpengaruh jelek bagi diri dan timnya.

4. Memberikan masukan
Meski anda mempunyai pendapat bahwa si pemikir negatif harus mengubah
kelakuannya sendiri, namun tidak ada salahnya kalau anda ikut membantu sehingga
proses perubahannya dapat dipercepat. Mungkin ia sendiri tidak tahu bagaimana
bersikap lebih baik. Beritahu bahwa mungkin kelebihan-kelebihan yang dimiliki tertutupi
oleh sikap-sikap negatif yang ditunjukkannya.

5. Tanamkan sikap positif dalam diri rekan lain
Cara yang biasa digunakan di masa lalu (namun masih ampuh) : beri contoh positif
melalui tingkah laku dan sikap sehari-hari anda. Dengan memberi contoh maka anda
akan menjadi panutan bagi rekan kerja anda, dan mungkin secara perlahan sifat-sifat
buruk tersebut akan menghilang dengan sendirinya. Yang terpenting, seandainya anda
mempunyai rekan kerja yang ’sulit’, jangan pernah segan untuk memulai dialog
dengannya. Dengan demikian, anda akan terhindar dari hal-hal yang lebih buruk.
******
diterjemahkan oleh : hendra

 

Strategi Mendapatkan Penghasilan Lebih

Disimpan pada Umum — tipsgawe @ 4:01 adalah

 

Sekarang ini, yang namanya kesetiaan sudah nyaris punah (terutama dalam dunia kerja). Pada
masa krisis sekarang ini perusahaan dapat dengan mudah membatalkan kontrak kerja, dan
pengurangan karyawan dalam perusahaan adalah suatu hal yang biasa. Bukti-bukti
menunjukkan bahwa mereka yang tetap dalam satu pekerjaan kenaikan upahnya lebih sedikit
dibanding mereka yang menjadi kutu ’loncat’. Jadi buat anda yang ingin mendapat penghasilan
tinggi dalam waktu relatif singkat, inilah kiat-kiatnya :

1. Gonta- ganti pekerjaan adalah sebuah strategi
Bekerja di satu perusahaan selama 10 atau 20 tahun adalah strategi lama, yang saat ini
sangat riskan untuk dilakukan. Buktinya telah banyak kasus di mana perusahaan
melakukan PHK pada karyawan, menutup divisi atau hal-hal lainnya yang dapat
membuat perusahaan tersebut meraih keuntungan atau menjadi lebih kompetitif
menghadapi persaingan.

2. Buka mata terhadap segala kemungkinan pekerjaan baru
Lakukan riset mendalam tentang perusahaan atau industri apa dalam pekerjaan anda
yang sedang booming saat ini. Amati terus perkembangan pasar dan kesempatan yang
ada. Namun selama anda masih bekerja di perusahaan anda yang sekarang, tetaplah
bersikap setia. Selesaikan pekerjaan sebaik-baiknya meski (mungkin) tak lama lagi
anda berencana untuk keluar.

3. Berhenti saat di puncak
Bila anda keluar dari pekerjaan, pastikan bahwa hal tersebut dilakukan bukan karena
pekerjaan anda mulai kacau atau anda bermasalah dengan atasan. Berhenti saat masih
di atas akan membuat nilai anda di tempat anda hendak melamar lebih tinggi.

4. Hargai diri sendiri dengan nilai tinggi
Posisikan diri anda sebagaimana perusahaan yang sedang berusaha
menciptakan/memasarkan sebuah produk baru. Tanyakan diri anda apa yang harus
anda lakukan supaya berada dalam posisi menguntungkan (yang ujung-ujungnya
adalah meraih kesuksesan di masa depan). Jangan menunggu sampai pasar yang
datang pada anda.

5. Buat rencana kecil sebelum interview
Jangan presentasikan diri anda dengan cara konvensional, tunjukkan pada mereka apa
dan bagaimana anda dapat berperan. Pendekatan ini dengan jelas akan membedakan
anda dari para kandidat lain.

6. Perlakukan dirimu dan usaha kecil tersebut dengan semangat tinggi
Lupakan penghargaan-penghargaan yang pernah anda dapat di pekerjaan sebelumnya,
saatnya anda berjuang lagi untuk mendapatkan pujian-pujian berikutnya. Simpan
pertanyaan “kompensasi apa yang akan diberikan pada perusahaan kepada saya”,
setidaknya sampai akhir wawancara.
*****
diterjemahkan oleh : hendra

 

Memperoleh Gaji Lebih Besar Di Perusahaan Baru

Disimpan pada Umum — tipsgawe @ 3:59 adalah

 

Percaya atau tidak, banyak orang yang gelagapan saat ditanya oleh pewawancara : Berapa gaji
yang anda inginkan? Anda menjawab terserah, jangan salahkan perusahaan jika gaji anda
ditekan sekecil mungkin. Beberapa orang memilih cara mengalihkannya dengan balik bertanya :
Sebenarnya berapa gaji ideal di posisi ini, namun hal ini dapat menjadi bumerang bagi anda
karena bisa saja si pewawancara mengarang besar gaji di posisi tersebut (yang tentu saja lebih
kecil dari standar).

Sebenarnya masalah negosiasi besar gaji yang akan diperoleh tidak terlalu rumit, asalkan anda
mengikuti aturan-aturan sederhana berikut dan mempersenjatai diri anda dengan percaya diri,
akal sehat, dan sedikit riset. berikut tips-tipnya :

1. Lakukan penyelidikan
Sebelum memasuki tahap negosiasi gaji, anda harus terlebih dahulu menyiapkan diri
anda dengan mengadakan riset, yang tujuannya adalah supaya anda mengetahui nilai
pasar anda. Perhitungkan pengalaman anda di bidang tersebut, proyek-proyek yang
pernah anda tangani, kemampuan anda mengambil inisiatif, dan mengetahui iklim
ekonomi yang ada saat ini. Kontak dengan organisasi profesional dan mencoba
beberapa perusahaan lain sebelum menentukan pilihan akan memberikan anda
gambaran yang lebih jelas berapa kisaran gaji posisi yang anda incar saat ini.

2. Jujur
Seandainya ditanya berapa gaji anda sebelumnya, jangan melebih-lebihkan penghasilan
sebelumnya. Anda tidak akan pernah tahu apakah perusahaan baru anda akan
mengecek ke tempat kerja anda sebelumnya. Banyak pekerjaan yang hampir diraih
oleh seseorang akhirnya lenyap hanya karena si pelamar melakukan kebohongan (yang
kelihatannya kecil namun berdampak besar ini).

3. Tembak langsung
Lawan ketakutan (atau keengganan anda memulai lebih dulu) dengan jurus tembak
langsung, ajukan nilai gaji yang anda harapkan begitu ditanya. Hal yang perlu diingat :
seandainya anda mengajukan nilai gaji terlalu tinggi, anda selalu mempunyai
kesempatan untuk menurunkan tawaran anda (sekaligus terlihat sebagai calon pegawai
yang memiliki motivasi tinggi). Namun sekali anda mengajukan tawaran terlalu rendah,
nyaris mustahil untuk menaikkannya kembali.

4. Jangan campur adukkan urusan bisnis dengan pribadi
Menjalankan sebuah perusahaan adalah bisnis, jadi jangan heran bila pewawancara
anda berusaha menekan anda hingga menerima gaji serendah mungkin (itu memang
tugasnya sih!). Ada hal yang tidak boleh anda lupakan : menjalani wawancara bukan
berarti anda tampil semanis mungkin, jangan pernah meminta maaf atau mundur
menghadapi gertakan. Tampilkan diri dengan penuh kepercayaan diri (namun dengan
tetap berlaku sopan dan hormat pada pewawancara).

5. Lakukan tawar-menawar
Seandainya gaji yang ditawarkan tidak sesuai dengan harapan anda (namun lebih dari
cukup untuk menutupi pengeluaran anda), tidak ada salahnya anda mencoba
melakukan tawar-menawar misalnya dengan mengajukan satu minggu ekstra untuk
liburan, waktu kerja yang fleksibel, bagian kepemilikan, atau jadwal pembagian bonus.
Jangan salah, nilai bonus terkadang cukup besar lho, bisa mencapai 10 sampai 20
persen gaji anda.

Pada akhirnya, ketekunan anda dalam melakukan penyelidikan, kejujuran, dan keyakinan diri
yang cukup adalah cara terbaik untuk memastikan anda mendapatkan pekerjaan yang anda
inginkan (yang juga memenuhi syarat-syarat yang anda minta). Belajarlah menjadi negosiator
yang baik, bahagiakan diri anda dan (mudah-mudahan) gaji anda lebih besar.
*****
diterjemahkan oleh :

 

Mengatasi Gangguan Saat Kerja

Disimpan pada Dunia Kerja — tipsgawe @ 3:57 adalah

 

Dalam sebuah kesempatan, pengarang buku terkenal John Naisbitt mengemukakan konsep
’high-tech/high- touch’. Dikatakannya bahwa semakin banyak seseorang terlibat aktivitas yang
bersifat high-tech (misalnya bekerja berjam-jam sendirian di depan komputer), maka semakin
banyak dibutuhkan interaksi yang bersifat high-touch. Kata high-touch di sini bukan
dimaksudkan sebagai arti yang harafiah — Anda tidak perlu sampai memeluk rekan kerja
setelah seharian di depan komputer, tapi mungkin lebih ke arah pembicaraan yang
menyenangkan dan dapat membantu menghilangkan kejenuhan.

Berapa lama seseorang dapat bekerja di depan komputer sebelum akhirnya membutuhkan
waktu jeda untuk berinteraksi dengan orang lain sangat bervariasi, tergantung pada kepribadian
masing-masing orang dan keadaan. Waktu yang dibutuhkan mungkin selama satu jam, satu
hari penuh atau bahkan lebih lama lagi. Kebutuhan untuk menyeimbangkan hidup kita dengan
interaksi yang bersifat high-touch akan semakin meningkat seiring dengan semakin dalamnya
keterlibatan tehnologi dalam pekerjaan kita. Dengan memahami apa yang kita butuhkan, kita
akan mampu menyelesaikan dua hal : pekerjaan dan tidak tertinggal gosip/berita terkini
tentang perkembangan dunia sekitar.

1. Cermati jam biologis Anda
Perhatikan bila anda mulai merasa mendapat tanda-tanda berikut : leher kaku, mata
mulai mengalami keletihan, sakit kepala atau punggung terasa pegal. Gejala-gejala
tersebut bisa jadi timbul karena kejenuhan berada di depan komputer dalam waktu
lama. Untuk mengatasinya, lemaskan kaki dengan berjalan mengelilingi ruangan kerja
atau ke ruang rekan anda, atau sekedar untuk berbincang-bincang dengan temanteman
sejawat.

2. Ukur berapa kadar keseimbangan high-tech dan high-touch yang Anda miliki
Seandainya Anda berencana untuk bekerja seharian di depan komputer, rencanakan
untuk menghabiskan waktu istirahat anda dengan berinteraksi (entah dengan rekan
ataupun atasan tempat bekerja). Catat kegiatan tersebut selama beberapa waktu, dan
cari waktu rata-rata berapa lama Anda dapat tahan bekerja sebelum beristirahat.
Tentukan berapa lama waktu istirahat yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
high-touch, dan patuhi aturan yang telah Anda buat tersebut.

3. Jujur dan bersikap asertif dengan para pengganggu yang kronis atau bersikap
seenaknya
Saat Anda mulai merasa kerja terganggu karena pembicaraan teman-teman yang
seolah tak ada ujungnya, utarakan secara langsung (lakukan dengan halus dan sopan).
Jangan berharap mereka dapat membaca pikiran atau bahasa tubuh yang Anda
tampilkan.

4. Sadar bahwa ’gangguan’ yang dilakukan oleh rekan Anda mungkin adalah
salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan high-touch mereka
Bila Anda maka akan lebih sabar menghadapi para pengganggu, namun Anda sendiri
harus mendahulukan apa yang telah menjadi komitmen sejak awal. Jangan biarkan
pekerjaan terbengkalai hanya karena Anda dapat memahami kenapa rekan kerja
bertindak seperti itu. Namun sekali lagi, itu bukan berarti Anda akan membiarkannya
mengganggu pekerjaan yang sedang Anda tunda. Beranikan diri Anda untuk menyela
pembicaraan seandainya merasa bahwa pembicaraan tersebut akan memakan waktu
lama, sedangkan Anda sudah harus kembali ke pekerjaan yang sedang dikerjakan.
*****
diterjemahkan oleh : hendra

 

Dijauhi Rekan-Rekan Kerja

Disimpan pada Dunia Kerja — tipsgawe @ 3:55 adalah

 

Meskipun rasanya ingin meledak, namun alangkah bijaksananya bila Anda tidak
melakukan hal tersebut. Sebelum emosi lepas kendali, ingat bahwa hal tersebut akan
mempengaruhi citra Anda di mata rekan kerja. Jangan-jangan mereka berpendapat,
“Ah, Si A (Anda) sih orangnya gampang marah, dimintai tolong sedikit aja gak mau.”
Kenyataan membuktikan bahwa terkadang kita harus ”menuntun” seseorang
bagaimana supaya mereka memperlakukan kita seperti yang kita inginkan. Salah
satunya adalah dengan sesekali membiarkannya ’memanfaatkan’ Anda. Dengan
menyimak tips berikut, hindari bentrokan yang berbuntut persaingan tidak sehat
dengan rekan kerja Anda.

1. Jaga emosi
Daripada memberitahu seeseorang dengan kalimat “Saya kan tidak bisa melakukan
semuanya!” utarakan apa yang bisa Anda lakukan. Dengan begitu Anda bisa
memberikan pengertian pada rekan kerja, dan membuatnya paham akan kesulitan.

2. Gunakan kata “Saya’
Satu kata yang hampir pasti membuat seseorang menjadi defensif dan membela diri
dari tuduhan adalah”kamu”. Komunikasi dua pihak langsung berhenti karena lawan
bicara malah sibuk merencanakan strategi pembelaan diri dibandingkan mendengar
penjelasan. Jadi untuk menghindarinya, tidak ada salahnya mulai berkata, “Sebenarnya
saya ingin membantu, namun pekerjaan saya hari ini benar-benar sangat banyak.
Bagaimana kalau rekan lain saja, kebetulan si A sangat ahli mengerjakan pekerjaan
tersebut.”

3. Hindari sindiran dan sarkasme
Menyindir seseorang dengan komentar-komentar yang kasar atau bersifat sarkastik
cuma akan membuat kita merasa puas sesaat. Namun berikutnya, efek jangka panjang
yaitu membuat situasi menjadi tambah buruk harus Anda terima yang pasti akan
sangat menyusahkan. Sebisa mungkin hindari deh hal yang satu ini.

4. Jangan potong pembicaraan orang lain
Memotong pembicaraan orang lain bukan hanya merupakan kebiasaan yang tidak
sopan dan sangat mengganggu, namun hal tersebut juga bisa memberikan efek
berlawanan dari apa yang ingin kita dapatkan dari seseorang. Saat memotong
pembicaraan, kita mungkin berpikir untuk tujuan baik yaitu mempersingkat
pembicaraan sekaligus (mungkin) menjelaskan. Namun kenyataannya, malah bisa jadi
orang yang disela tersebut jadi sebal terhadap tingkah Anda.

5. Ajukan pertanyaan sebagai klarifikasi, bukan untuk menuduh
Jangan memulai pertanyaan dengan kata “Kenapa?” karena itu hanya akan membuat
seseorang merasa dihakimi dan kemudian mereka akan melakukan aksi defensif.
Gunakan kata seperti “Siapa,” “Apa,” “Kapan,” “Di mana” atau “Bagaimana” untuk
membuka kalimat pertanyaan yang ingin Anda ajukan.
Rasanya bila Anda mampu menampilkan sisi diri yang asertif, bicara berdasarkan fakta serta
sopan, rekan-rekan kerja akan hormat dan segan. Selain itu ada keuntungan ektra : kalau Anda
bisa diandalkan dan mempunyai hubungan baik dengan semua orang, siapa tahu ada
kesempatan peningkatan karir tanpa diduga-duga. Selamat berkarya!
*****
diterjemahkan oleh : hendra

 

Lolos Dari Kejaran Deadline

Disimpan pada Dunia Kerja — tipsgawe @ 3:53 adalah

 

Salah satu hal tersulit dalam kehidupan kerja profesional seseorang adalah mengatur waktu
dengan baik. Untuk Anda yang berprofesi sebagai konsultan atau terpilih sebagai kepala untuk
menangani sebuah proyek ataupun dalam menyelesaikan pekerjaan sehari- hari, pasti sering
menghadapi tuntutan untuk menyelesaikan proyek sesuai tenggang waktu/deadline yang telah
diberikan sebelumnya. Tugas yang kelihatannya mudah ini dapat menjadi sulit bila Anda tidak
berhati-hati, yang sering kali membuat waktu yang tersedia tidak cukup karena kita
meremehkan hal-hal yang terdengar sepele. Ada beberapa cara untuk mengatasi hal ini.

Pertama, hal yang paling penting adalah memahami proyek yang akan Anda tangani. Hal ini
mungkin terdengar sangat simpel, namun banyak orang yang tidak menyadarinya. Tapi ada
perbedaan yang dalam cara pandang antara klien atau manajer yang memberi tugas dengan
Anda sebagai pelaksana tugas mengenai bagaimana cara menyelesaikan sebuah proyek atau
bagaimana tampilan yang diharapkan. Ada baiknya Anda bertanya mengenai hal- hal detil
seperti, “Apa yang Anda harapkan setelah proyek ini selesai?” “Bagaimana bentuknya setelah
selesai?” dan sebagainya. Semakin banyak pertanyaan yang Anda ajkan, semakin besar
kemungkinan Anda dan dia (klien/manajer) mampu menyamakan persepsi sehingga bentrokan
yang mungkin terjadi mengenai proyek tersebut dapat dihindarkan.

Kedua, bagi proyek tersebut menjadi sub-sub bagian kecil. Bagi tugas tersebut menjadi bagianbagian
kecil yang bisa dikerjakan terpisah, dan selesaikan berdasarkan urutan tugas. Hal ini
akan memudahkan Anda dalam penyelesaian tugas, sebab sering kali bila tidak dibagi-bagi,
sebuah tugas akan terlihat sangat banyak dan terlalu rumit untuk diselesaikan.

Setelah membuat daftar tugas yang akan dikerjakan, langkah berikutnya adalah mengerjakan
tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Beri tanda check untuk setiap tugas yang telah
diselesaikan. Kemudian simak kembali daftar tersebut dengan seksama dan tuliskan berapa
banyak waktu yang dibutuhkan sebelumnya untuk menyelesaikan tugas yang sama. Dengan
melakukan perbandingan, dapat diketahui sejauh mana Anda telah berhasil memperbaiki diri.

Lalu apa yang harus Anda lakukan dalam merencanakan tugas yang belum pernah dilakukan
sebelumnya? Misalkan Anda mendapatkan kontrak sebagai konsultan untuk membuat sebuah
situs baru. Mungkin Anda tahu banyak tentang program-program penunjang yang akan
digunakan untuk membangun, atau mungkin Anda mahir dalam desain grafis/tampilan situs.
Tapi satu hal yang menjadi kekurangan : Anda tidak punya pengalaman membuat situs sendiri,
dan untuk melakukannya perlu bantuan orang lain. Untuk mengatasinya, bertanyalah pada
teman Anda, siapa tahu ia pernah punya pengalaman membuat situs atau kenal dengan orang
lain yang paham tentang seluk-beluk hal satu ini. Biasanya orang yang sudah profesional di
bidang ini dengan senang hati akan memberikan masukan atau nasehat.

Yang sulit adalah bila ternyata kita meremehkan tugas yang diberikan, yang pada akhirnya
tidak mampu diselesaikan tepat waktu. Kalau sudah begini, kira-kira apa yang harus dilakukan
ya? Strategi pertama adalah menuliskan alasan-alasan mengapa keterlambatan itu terjadi,
kemudian temuai atasan atau klien Anda untuk bersama-sama mendiskusikannya. Mengakui
kesalahan diri sendiri tanpa melakukan pembelaan sangat penting, bila kita mampu
melakukannya, biasanya manajer atau klien kita akan berbesar hati memberi maaf (asalkan
tidak terlalu sering). Bukan tidak mungkin mereka memberikan masukan baru, sehingga
dengan waktu ekstra maka tugas tersebut dapat diselesaikan dengan lebih sempurna dari
sebelumnya. Seandainya mereka marah? Terima saja, toh itu adalah kesalahan kita sendiri,
yang penting kita sungguh-sungguh berniat menebus kesalahan tersebut. Selamat mencoba!
*****
diterjemahkan oleh : hendra

 

To The Point Dalam Mengutarakan Pendapat

Disimpan pada Dunia Kerja — tipsgawe @ 3:49 adalah

 

Betapa menyebalkan berhadapan dengan orang yang bicara berputar-putar atau tidak langsung
pada point yang dimaksud. Apakah Anda pernah menemui orang dengan tipe seperti itu, atau
lebih parah lagi, apakah Anda termasuk orang yang memiliki tipe seperti itu? Hati- hati lho, sifat
yang satu ini bisa membuat orang menjauh dari Anda, dan dapat menghambat karir dan
pekerjaan. Untuk menghindari kecenderungan ini, simak kiat- kiat berikut.

1. Mengulang hanya kalau dibutuhkan
Jangan mengulang-ulang komentar atau pendapat yang Anda sampaikan kecuali bila
lawan bicara tidak mendengar atau menunjukkan gelagat tidak mengerti. Setelah
mengulang, lanjutkan pembicaraan.

2. Jangan utarakan pendapat yang telah diutarakan sebelumnya
Ungkapkan ide-ide atau pemikiran baru dalam diskusi dan jangan mengulang apa yang
telah disampaikan oleh orang lain. Rasanya tidak ada orang yang ingin mendengarkan
hal yang sama diulang-ulang kembali.

3. Hindari kebiasaan membumbui/menambahkan kata-kata
Lontarkan komentar/pendapat dengan kalimat sesederhana mungkin namun tepat
dalam mengekspresikan maksud. Dalam kursus menulis, kita diajarkan untuk mengedit
kata-kata yang ingin ditulis supaya lebih sigkat dan mudah dimengerti. Tidak ada
salahnya bila Anda menerapkan konsep yang sama dalam percakapan/komunikasi
verbal.

4. Ritme bicara
Cepat-lambatnya seseorang berbicara mempengaruhi apakah orang lain dapat mengerti
atau tidak apa yang hendak disampaikan. Kalau berbicara terlalu cepat, bisa-bisa apa
yang hendak Anda sampaikan malah tidak jelas. Sebaliknya, hindari berbicara dengan
ritme yang terlalu pelan/lambat, sehingga lawan bicara mampu menyela pembicaraan
dengan mengutarakan apa yang ingin Anda sampaikan.

5. Hindari lelucon
Jangan berusaha membuat lelucon-lelucon yang mungkin ditujukan untuk membuat
rekan tersenyum namun malah berakibat sebaliknya. Meski Anda mungkin berpikir diri
Anda adalah komedian terkenal yang mampu mengocok perut orang lain, tapi janganjangan
lawan bicara malah berpikir bahwa Anda menghabiskan waktunya dengan
melontarkan lelucon-lelucon yang sama sekali tidak lucu. Hal ini sangat fatal terutama
dalam meeting.

6. Diam kalau gugup
Hindari kata-kata seperti “uh,” “yah, begitulah,” “um,” dan “eh,” yang biasanya
digunakan saat kita gugup atau kehabisan kata-kata. Lebih baik diam saat Anda tidak
tahu apa yang ingin dikatakan daripada menggunakan kata-kata yang malah membuat
orang mempertenyakan kapasitas

7. Bicarakan topik yang dimengerti oleh semuanya
Jangan mendiskusikan hal-hal yang tidak relevan (dalam hal ini hal-hal yang bersifat
pribadi) yang mungkin hanya dimengerti oleh Anda berdua namun tidak dimengerti
oleh rekan-rekan lain yang ada disitu. Bila Anda ingin membicarakan hal yang sifatnya
pribadi, lakukan nanti.

8. Dahulukan kepentingan tim
Dalam diskusi, ajukan pertanyaan yang relevan dengan keberhasilan/kemajuan tim,
bukannya tentang prestasi diri sendiri. Seandainya mempunyai pertanyaan yang
berkaitan dengan diri Anda (misalnya performa di tempat kerja), sampaikan setelah
rapat selesai.
*****
diterjemahkan oleh : hendra

_qmeta=”qc:adt=0&bti=My+Tips+4+U…&lan=id”;_qacct=”p-18-mFEk4J448M”;quantserve(); <p><img src=”http://pixel.quantserve.com/pixel/p-18-mFEk4J448M.gif&#8221; style=”display: none” height=”1″ width=”1″ alt=”” /></p> st_go({blog:’204214′,v:’wpcom’,post:’0′,subd:’tipsgawe’,x_theme:’classic’,x_lang:’id’,x_dc:’sfo’,x_adt:’0′,x_public:’1′,x_mapped:’0′,x_ads:’no’,x_noads:’wrongtype,seen,firefox,notsearch’,x_plugin:’snap’,x_pagetype:’home’}); addLoadEvent(function(){linktracker_init(204214,0);});

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: